Beranda » Uncategorized » PERKEMBANGAN PERSPEKTIF DALAM EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

PERKEMBANGAN PERSPEKTIF DALAM EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL

Ekonomi politik internasional telah menjadi kajian dalam hubungan internasional sejak 1970-an. Dimana terdapat beberapa faktor yang membuat pendekatan hibrida ini kembali digunakan, baik secara akademik maupun secara historis. Secara akademik kajian ekonomi politik internasional menjadi penting ketika terdapat fenomena kemerosotan nilai tukar barang ekspor negara kurang berkembang. Selain itu adanya kritik terhadap konseptualisasi mengenai dinamika comparative cost atau comparative advantage, munculnya teori ketergantungan (dependency theory), berkembangnya ilmu ekonomi pembangunan serta munculnya studi regional dan interdepedensi semakin memperkuat alasan munculnya studi tentang ekonomi politik internasional ini. Adapun secara historis terdapat beberapa faktor yang membuat kajian ini kembali digunakan yang meliputi kemunculan dan pengakuan atas peran negara-negara yang sedang berkembang, bertuh pesatnya MNC, adanya krisis minyak bagi negara industri maju, serta fenomena inflasi di negara industri maju.
Selanjutnya kajian ekonomi politik internasional ini berkembang menjadi empat perspektif – yang bisa juga disebut sebagai perspektif dasar. Yang mana perspektif-perspektif tersebut mengalami perkembangan yang tergambarkan dengan terdapatnya dinamika kritik masing-masing perspektif. Dinamika saling kritik ini kemudian melahirkan perspektif baru yang memperbaharui perspektif sebelumnya. Perspektif dalam kajian ekonomi politik internasional ini teruraikan menjadi empat pandangan yaitu merkantilis, liberalis, radikal, dan reformis.

Perspektif Merkantilis
Perspektif merkantilis atau yang juga dikenal sebagai nasionalisme – ekonomi ini mempunyai akar sejarah yang panjang diantara keempat perspektif yang terdapat dalam kajian ini. Dapat juga disebutkan bahwa perspektif ini merupakan awal munculnya perspektif-perspektif lain dalam studi ekonomi politik internasional. Sebagai teori dan praktek ekonomi, merkantilisme sangat populer bagi pemerintah yang sedang melakukan pembinaan kekuatan negara (state building). Karena upaya seperti itu memerlukan pengintegrasian politik dan ekonomi, maka negara menjadi aktor utama yang secara aktif dan rasional mengatur ekonomi demi meningkatkan perekonomian negara. Dalam perspektif ini negara-bangsa yang secara rasional memaksimalkan kekuasaan dipandang sebagai aktor utama dalam unit analisis. Negara dalam pandangan merkantilis harus berperan secara primer, yaitu dengan memperjuangkan kepentingan nasional (kekuasaan politik, GNP, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial). Selain itu tujan utama kegiatan ekonomi politik internasional ini adalah untuk memaksimalisasi kepentingan nasional.
Perspektif ini juga menegaskan bahwa kebijakan ekonomi harus selalu tunduk kepada kepentingan politik dan juga kekuasaan. Karena itu perubahan ekonomi politik hanya mungkin terjadi kalau terjadi perubahan dalam distribusi atau perimbangan kekuatan. Artinya kalau ingin merubah sistem ekonomi internasional yang tidak mendukung kepentingannya, suatu negara harus bisa mengubah distribusi kekuatan politik internasional. Adapun jika suatu negara dalam kondisi lemah dan tidak mampu mempengaruhi sistem internasional, kaum merkantilis menganjurkan agar pemerintah negara itu melakukan intervensi pasar demi melindungi perekonomian domestiknya dari dominasi asing.
Pandangan kaum merkantilis yang demikian memunculkan berbagai kritikan. Kritik pertama yang diajukan pada pandangan merkantilis ini ialah bahwa perspektif ini terlalu berlebihan dalam menekankan kepentingan nasional sehingga merugikan kepentingan global. Dan praktek hubungan internasional yang didasarkan pada gagasan merkantilis ini telah banyak menimbulkan konflik ekonomi, yang seringkali mendorong timbulnya konflik politik dan militer. Para pengkritik pandangan ini juga melontarkan tuduhan bahwa kaum merkantilis telah mengabaikan kenyataan mengenai terdapatnya bidang-bidang dalam hubungan internasional yang memungkinkan negara-negara untuk dapat bekerjasama. Selain itu para pengkritik, terutama kaum liberal, juga menunjukkan bahwa penekanan yang berlebihan pada pencapaian kepentingan nasional sangat mengganggu efisiensi ekonomi global. Efisiensi hanya akan bisa dijamin kalau setiap ekonomi nasional memproduksi, mengekspor, dan mengimpor barang berdasar perhitungan yang cermat mengenai sumber daya dan kemampuannya untuk memproduksi barang secara efisien. Terdapatnya kritik-kritik terhadap perspektif merkantilis ini kemudian melahirkan perspektif liberal, yangpelopori oleh tokoh-tokoh awal kaum liberal sepeti Adam Smith dan David Ricardo.

Perspektif Liberal
Perspektif ini pada awalnya muncul sebagai alternatif yang diajukan oleh para pengkritik merkantilisme. Dipelopori oleh Adam Smith dan David Ricardo, keduanya menentang adanya pengendalian ekonomi domestik dan internasional yang berlebihan. Perspektif liberal mengajukan argumen bahwa cara paling efektif untuk meningkatkan kekeayaan nasional adalah dengan membiarkan terjadinya pertukaran antar individu dalam ekonomi domestik dan internasional berjalan secara bebas dan tidak perlu dibatasi. Dengan kata lain kedua tokoh tersebut menganjurkan diadakannya pasar bebas. Selanjutnya kaum liberal berasumsi bahwa individu (yang meliputi konsumen, perusahaan, atau wiraswasta industrial) adalah aktor utama dan mereka mmiliki perilaku rasional dan selalu berusaha memaksimalkan perolehan. Kaum liberal juga yakin bahwa sebenarnya tidak ada alasan untuk timbulnya konflik dalam hubungan ekonomi politik.
Adapun mengenai peranan negara dalam perspektif ini ialah sangat terbatas. Peranan pemerintah menurut kaum liberal seharusnya diarahkan untuk menyediakan fondasi bagi bekerjanya mekanisme pasar, seperti menjamin keamanan, kepastian hukum, melindungi hak milik, mencegah persaingan yang tidak sehat, menyelenggarakan pendidikan, dan membangun infrakstruktur pendukung. Selain itu kaum liberal juga percaya bahwa pemerintah-pemerintah yang terlibat seharusnya dalam pasar seharusnya mengelola ekonomi internasional seperti halnya kalau mereka mengelola ekonomi domestik. Dengan demikian, menurut perspektif liberal, ekonomi dan politik merupakan bidang yang terpisah. Peran pemerintah terbatas pada pengelolaan pasar untuk menjamin bahwa semua perdagangan yang secara potensial menguntungkan bisa terlaksana.
Dalam praktek hubungan ekonomi-politik internsional, gagasan liberal juga banyak mendapatkan kritik. Pertama, praktek transaksi ekonomi yang didasarkan pada gagasan liberal ternyata hanya menguntungkan yang lebih efisien, yaitu “si kuat” dan merugikan “si lemah” yang tidak efisien. Selain itu dalam arena internasional liberalisme juga mengingkari fakta bahwa tidak semua bangsa memiliki kemampuan yang sama untuk berkompetisi, karena adanya perbedaan dalam struktur faktor produksi mereka. Banyaknya kritikan terhadap perspektif ini kemudian melahirkan perspektif baru yang kemudia disebut sebagai perspektif radikalisme.

Perspektif Radikal
Perspektif ini berkembang dari pemikiran para pengkritik liberalisme. Seperti halnya liberalisme yang muncul sebagai reaksi terhadap merkantilisme, perspektif radikal berkembang sebagai reaksi terhadap meluasnya liberalisme di abad 19. Basis pokok perspektif ini adalah Marxisme. Jika kaum liberal memandang pasar bisa memungkinkan individu untuk memaksimalkan perolehan, maka kaum Marxis melihat bahwa kapitalisme dan pasar telah menciptakan perbedaan yang ekstrim, yaitu kekayaan untuk kapitalis dan kemiskinan untuk kaum buruh. Perspektif ini juga menolak pendapat bahwa pertukaran yang terjadi antar individu pasti memaksimalkan kemakmuran seluruh masyarakat. Karena itu Marxis memandang kapitalisme sebagai sistem yang dalam dirinya mengandung bibit konflik dan yang harus dan akhirnya pasti akan dihancurkan dan diganti oleh sosialisme. Selanjutnya kaum radikal membuat beberapa asumsi berikut. Pertama, bahwa kelas sosial adalah aktor dominan dalam ekonomi politik dan merupakan unit analisis pokok. Kedua, bahwa kelas-kelas itu bertindak berdasar kepentingan materiil mereka. Ketiga, bahwa basis dari ekonomi kapitalis adalah eksploitasi kelas buruh oleh kelas kapitalis. Asumsi ketiga ini menyebabkan kaum radikal berkesimpulan bahwa ekonomi politik pasti bersifat konfliktual, karen hubungan antara kapitalis dengan buruh itu pada dasarnya antagonistik.
Seperti halnya perspektif-perspektif sebelumnya, perspektif radikal ini juga tidak terhindar dari adanya kelemahan. Pertama, pemikiran radiakl terlalu menekankan kelas sebagai variabel penyebab kegiatan ekonomi. Kedua, argumen radikal seringkali juga nampak tidak realistis. Hal tersebut terlihat dari anjuran kaum radikal agar negara sedang berkembang menarik diri dari dunia internasional. Para pengkritik pemikiran radikal ini mengajukan argumen bahwa masih banyak jalan bagi negara sedang berkembang untuk memanfaatkan ekonomi internasional bagi keperluan pembangunannya, tanpa harus berpegang pada liberalisme. Dan dari kalangan pengkritik ini muncullah satu perspektif baru yang bisa disebut reformis.

Perspektif Reformis
Pada dasarnya para pendukung perspektif yang juga dikenal sebagai konsepsi Tata Ekonomi Internasional Baru (TEIB) ini muncul sebagai kritik terhadap ketiga konsepsi yang telah dibahas diatas. Kaum reformis ini memang melihat beberapa kebenaran dalam argumen kaum liberal ketika yang terakhir ini menentang nasionalis sempit kaum merkantilis. Namun mereka tidak setuju dengan penekanan berlebihan terhadap pertimbangan nilai efisiensi sehingga merugikan aktor yang lebih lemah. Kaum reformis juga setuju dengan kaum radikal yang menunjukkan bahaya liberalisme bagi “si lemah”, namun mereka tidak setuju dengan ususl kaum radikal agar negara berkembang melakukan perubahan revolusioner menentang sistem kapitalis. Juga, walaupun mereka setuju dengan gagasan merkantilis mengenai peran aktif negara dalam urursan ekonomi internasional, mereka lebih bersikap internasionalis daripada nasionalis. Mereka lebih percaya pada upaya reformasi daripada perubahan radikal revolusioner. Jadi, menurut kaum radikalis yang terpenting bukannya meninggalkan arena internasional dan menutup diri, tetapi berusaha menciptakan suatu tatanan baru untuk mengatur hubungan ekonomi sehingga negara-negara sedang berkembang bisa memeperoleh hasil yang adil dari perdagangan lur negeri.
Para pendukung konsepsi reformis ini yakin bahwa hanya gagasan TEIB itulah yang bisa menghasilkan hubungan internasional yang lebih damai dan menjamin lebih banyak keuntungan pada setipa negara yang terlibat. Akan tetapi semenjak keberhasilannya mendorong restrukturisasi ekonomi internasional pada 1970-an, nampak bahwa perspektif ini juga tidak bebas dari kelemahan-kelemahan, terutama yang menyangkut implikasi reformasi yang diusulkan itu. Misalnya apakah pemerintah dan para pemimpin negara berkembang mampu memepersatukan diri melawan negara industri maju di meja konferensi, kemudian apakah negara berkembang tersebut mempunyai cukup kekuatan atau senjata untuk melakukan bargaining dengan negara-negara industri maju. Selanjutnya apakah negara-negara kaya mau begitu saja dipaksa menyerahkan sebagian kekayaannya kepada negara miskin, dan juga pertanyaan-pertanyaan lainnya yang kerap diajukan oleh para pengkritik gagasan TEIB.

Demikianlah keempat perspektif yang sangat berpengaruh dalam perdebatan dan juga perkembangan kajian ekonomi politik internasional. Seperti yang tertulis sebelumnya bahwa perspektif-perspektif tersebut mengalami perkembangan yang tergambarkan dengan terdapatnya dinamika kritik masing-masing perspektif. Dinamika saling kritik ini kemudian melahirkan perspektif baru yang memperbaharui perspektif sebelumnya. Dengan demikian telah jelas bahwa perkembangan perspektif dalam kajian ekonomi politik internasional ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perdebatan dan kritik masing-masing perspektif. Dan tidak menutup kemungkinan akan muncul perspektif-perspektif baru kedepannya jika persoalan-persoalan yang terdapat pada perspektif sebelumnya (reformis) mampu terjawab dan terjelaskan dengan terdapatnya relevansi antara perspektif baru tersebut dengan fenomena yang ada.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: