Beranda » Uncategorized » KELESTARIAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF HUMAN SECURITY

KELESTARIAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PERSPEKTIF HUMAN SECURITY

Dunia yang kita tempati saat ini terdiri dari beberapa unsure yang meliputi makhluk hidup seperti manusia, hewan, tumbuhan, serta lingkungan dan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya. Secara umum terlihat jelas bahwa makhluk hidup yang ada di dunia ini khususnya manusia mempunyai peran sebagai pengguna dari sumber daya alam yang tersedia. Pada awalnya penggunaan sumber daya alam oleh manusia masih dalam batas kewajaran. Akan tetapi, lambat laun sumber daya alam yang ada dieksploitasi secara besar-besaran oleh manusia. Hal tersebut tentu saja berdampak pada kerusakan lingkungan yang berujung pada terjadinya bencana alam.

Fenomena kerusakan lingkungan  tersebut, dewasa ini menjadi perhatian serius seluruh umat manusia di dunia. Semakin besarnya angka kerusakan alam dalam beberapa decade terakhir menimbulkan kesadaran baru mengenai pentingnya penjagaan terhadap lingkungan maupun sumber daya alam yang terdapat didalamnya. Dalam konteks keilmuan Hubungan Internasional, hal tersebut secara langsung juga berdampak pada bergesernya pemahaman para skolastik terhadap konsep-konsep keilmuan yang telah ada sebelumnya, khususnya konsep keamanan yang selama ini hanya melihat keamanan dari sudut pandang politis yang hanya melibatkan negara sebagai actor utamanya.

Adanya ancaman berupa bencana alam akibat kerusakan lingkungan secara langsung mengalihkan pemahaman para teoritisi hubungan internasional bahwa diperlukan sebuah pandangan baru dalam  melihat keamanan suatu negara. Artinya keamanan suatu negara tidak lagi dilihat dari seberapa kuat peran negara dalam melindungi rakyatnya dari ancaman luar yang datang dari negara-negara lain. Akan tetapi ancaman-ancaman lain seperti adanya bencana alam juga patut menjadi perhatian serius sebuah negara dalam upayanya menjamin keamanan rakyatnya. Dan negara secara independen ternyata tidak cukup mampu mengatasi persoalan ini. Atas beberapa asumsi tersebut kemudian lahirlah apa yang dinamakan konsep keamanan non-tradisional yang berkembang menjadi konsep-konsep keamanan lain yang salah satunya ialah konsep human security.

Karena dewasa ini keberadaan kelestarian lingkungan dan sumber daya alam menjadi persoalan serius seluruh umat manusia yang berdampak secara langsung dalam perkembangan kajian keilmuan dalam hubungan internasional, maka menarik untuk melihat sumberdaya alam dan lingkungan hidup dalam perspektif human security, yang merupakan salah satu pengembangan konsep dari non-traditional security.

 

Sumber Daya Alam dan Klasifikasinya

Secara umum sumber daya alam dapat diartikan sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan hidup manusia agar hidup lebih sejahtera yang ada di sekitar alam lingkungan hidup kita. Sumber daya alam bisa terdapat di mana saja seperti di dalam tanah, air, permukaan tanah, udara, dan lain sebagainya. Contoh dasar sumber daya alam seperti barang tambang, sinar matahari, tumbuhan, hewan dan banyak lagi lainnya. Sumber daya alam dapat dikategorikan menurut beberapa klasifikasi[1]:

A. Sumber daya alam berdasarkan jenis :

– sumber daya alam hayati / biotic adalah sumber daya alam yang berasal dari makhluk hidup. contoh : tumbuhan, hewan, mikro organisme, dan lain-lain

– sumber daya alam non hayati / abiotik adalah sumber daya alam yang berasal dari benda mati. contoh : bahan tambang, air, udara, batuan, dan lain-lain

B. Sumber daya alam berdasarkan sifat pembaharuan :

– sumber daya alam yang dapat diperbaharui / renewable yaitu sumber daya alam yang dapat digunakan berulang-ulang kali dan dapat dilestarikan. contoh : air, tumbuh-tumbuhan, hewan, hasil hutan, dan lain-lain

– sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui / non renewable ialah sumber daya alam yang tidak dapat di daur ulang atau bersifat hanya dapat digunakan sekali saja atau tidak dapat dilestarikan serta dapat punah. contoh : minyak bumi, batubara, timah, gas alam.

– Sumber daya alam yang tidak terbatas jumlahnya / unlimited dan banyak dimanfaatkan oleh manusia secara gratis. contoh : sinar matahari, arus air laut, udara, dan lain lain.

C. Sumber daya alam berdasarkan kegunaan atau penggunaannya

– sumber daya alam penghasil bahan baku adalah sumber daya alam yang dapat digunakan untuk menghasilkan benda atau barang lain sehingga nilai gunanya akan menjadi lebih tinggi. contoh : hasil hutan, barang tambang, hasil pertanian, dan lain-lain

– sumber daya alam penghasil energy adalah sumber daya alam yang dapat menghasilkan atau memproduksi energi demi kepentingan umat manusia di muka bumi. misalnya : ombak, panas bumi, arus air sungai, sinar matahari, minyak bumi, gas bumi, dan lain sebagainya.

 

Konsep Human Security dan Perdebatannya[1]

Gagasan atau ide tentang human security membangkitkan kembali perdebatan mengenai apa itu keamanan dan bagaimana mencapainya. Paling tidak ada tiga kontroversi dalam perdebatan tersebut. Pertama, human security merupakan gagasan dan upaya negara-negara Barat dalam bungkus baru untuk menyebarkan nilai-nilai-nilai mereka terutama tentang hak azasi manusia. Kedua, human security, sebagai suatu konsep, bukanlah hal baru. Human security yang secara luas mencakup isu-isu non-militer juga sudah dikembangkan di dalam konsep keamanan konprehensif.

Ketiga, barangkali perdebatan yang paling tajam, adalah perbedaan dalam definisi dan upaya untuk mencapai human security oleh masing-masing pemerintah nasional berdasarkan sudut pandang, pengalaman, dan prioritas yang berbeda.

Dilihat dari subtansinya, gagasan human security, bukan hal baru dalam disiplin Hubungan Internasional. Bahwa ancaman tidak hanya datang dari negara lain dalam bentuk ancaman kekuatan militer sudah disadari oleh beberapa analis dan para pembuat kebijakan sejak beberapa dekade yang lalu, misalnya konsep insecurity dilemma dan beberapa perhatian pada keamanan anak-anak dan wanita yang ditunjukkan oleh karya Caroline Thomas, Sorensen, J.T. Matthew, Norman Myers, Neville Brown, beberapa teoritisi saling ketergantungan, dan para penganut pandangan kosmopolitanisme dalam hak azasi manusia. Subtansi human security juga dapat ditemukan dalam konsep keamanan yang dikemukakan oleh para proponen teori kritis yang mempersoalkan bangunan negara (state) sebagai tatanan patriarkal. Demikian pula halnya dengan ketahanan nasional yang digagas oleh Indonesia, keamanan konprehensif Jepang, dan sebagainya.

Tetapi bahwa human security muncul ke permukaan dan menjadi perdebatan sekarang ini tentu sangat menarik untuk dikaji. Berakhirnya Perang Dingin menciptakan momentum baru yang memberi ruang bagi penafsiran kembali makna keamanan. Ia tidak semata-mata keamanan negara dari ancaman militer negara lain. Bahkan, sebagai implikasinya, peran militer pun diperluas untuk melakukan tugas-tugas di luar pertahanan teritorial. Selain itu, perhatian terhadap human security juga diperkuat oleh gelombang globalisasi yang melahirkan arus balik karena beberapa efek negatifnya terhadap negara-negara lemah, kelompok, dan individu tertentu. Dan, yang paling mencolok adalah bahwa menguatnya gagasan dan upaya human security merupakan reaksi terhadap masalah-masalah kemanusiaan yang melanda dunia saat ini, mulai dari pengungsi akibat konflik dan kekerasan fisik, penjualan anak-anak dan wanita, masalah pangan, terorisme, perdagangan senjata ilegal, pelanggaran hak azasi manusia, dan sebagainya.

 

Human security: perdebatan konseptual

1. UNDP (United Nations Development Programme)

Pada tahun 1994 UNDP menjelaskan konsep human security yang mencakup: economic security, food security, health security, enviromental security, personal security, community security, dan political security. Jadi, secara umum, definisi human security menurut UNDP mencakup “freedom from fear and freedom from want”.  Konsep human security menurut UNDP sebenarnya merupakan sistesa dari perdebatan antara pembangunan dan perlucutan senjata dan beberapa karya atau laporan beberapa komisi misalnya Komisi Brant, Komisi Bruntland, dan Komisi Pemerintahan Global (Global Governance) yang menggeser fokus keamanan dari keamanan nasional atau negara ke arah keamanan manusia. Konsep human security UNDP menandai pergeseran hubungan internasional yaitu perubahan norma tentang hubungan antara kedaulatan negara dan hak azasi manusia yang kemudian melahirkan konsep Responsibility to Protect. Gagasan UNDP dengan demikian secara langsung mengaitkan human security dengan hak azasi manusia dan hukum humaniter. Salah satu kritik mengatakan bahwa cakupan human security sebagaimana didefinisikan oleh UNDP terlalu luas.

2. Pendekatan Kanada

Pemerintah Kanada secara eksplisit mengritik bahwa konsep human security UNDP terlalu luas dan hanya mengaitkan dengan dampak negatif  pembangunan dan keterbelakangan. UNDP mengabaikan “human insecurity resulting from violent conflict”. Kritik senada juga dikemukakan oleh Norwegia. Menurut Kanada, human security adalah keamanan manusia yang doktrinnya didasarkan pada Piagam PBB, Deklarasi Universal tentang Hak Azasi Manusia, dan Konvensi Jenewa. Langkah-langkah operasional untuk melindungi human security dirumuskan dalam beberapa agenda tentang: pelarangan penyebaran ranjau, pembentukan International Criminal Court, HAM, hukum humaniter internasional, proliferasi senjata ringan dan kecil, tentara anak-anak, dan tenaga kerja anak-anak.

3. Pendekatan Jepang dan Asia

Pandangan Jepang tentang human security sangat mirip dengan UNDP. Human security secara komprehensif mencakup semua hal yang mengancam kehidupan dan kehormatan manusia, misalnya kerusakan lingkungan, pelanggaran HAM, kejahatan terorganisir internasional, masalah pengungsi, peredaran obat-obat terlarang, penyebaran penyekit menular yang berbahaya, dan sebagainya. Jadi, Jepang menekankan bahwa human security dalam konteks “freedom from fear and freedom from want”. Sebagian besar negara-negara Asia segaris dengan pandangan human security UNDP dan Jepang. Mereka berpendapat, terlalu sederhana dan tidak realistis, melihat human security hanya dari ukuran bebas dari rasa takut akibat konflik dan pelanggaran HAM, sementara masalah-masalah yang dihadapi lebih banyak berdimensi kekerasan struktural akibat keterbelakangan sosial ekonomi.

4. Human Security: Policy, dan Intervensi Kemanusiaan

Perbedaan pandangan tentang human security berakar dari perbedaan filosofis dan praktis. Intinya, ada perbedaan tajam mengenai apakah human security dilihat lebih dalam konteks akibat kekerasan fisik dalam konflik bersenjata dan pelanggaran HAM ataukah lebih dari itu yang mencakup vulnerabilities dari semua bentuk ancaman, termasuk kemiskinan dan bencana alam. Tampaknya perdebatan ini tidak akan berakhir, masing-masing mempunyai dasar argumen yang sangat kuat.

Tetapi, ketika sebuah konsep atau gagasan harus ditransformasi ke dalam suatu kebijakan (policy), maka aspek politik dan operasional harus menjadi variabel penting di dalamnya. Yang menjadi ukuran adalah apa yang disebut the degree of human agency dan control. Bencana alam sering sangat sulit diprediksi, dan tetap berada di luar kontrol manusia. Bantuan kemanusiaan harus dilakukan secara apolitik, imparsial dan netral. Ini semua sangat berbeda dari kekerasan yang dibuat oleh manusia baik karena deliberate policy maupun karena kelalaian. Kebijakan human security dengan demikian akan dilihat dalam  konteks proses politik yang mengandung aspek human agency dan control yaitu pencegahan aksi kekerasan yang mungkin dilakukan oleh berbagai aktor terhadap manusia, mungkin negara, kelompok, individu-individu, dan sebagainya.

Perbedaan pandangan tentang human security membawa implikasi serius terhadap konsep intervensi kemanusiaan. Pemahaman bahwa security lebih dari state security dan bahwa keamanan manusia bersifat universal yang mengatasi batas-batas kedaulatan negara tidak cukup kuat menyamakan persepsi, gagasan, dan kebijakan untuk menjawab pertanyaan tentang kapan dan bagaimana intervensi kemanusiaan akan dilakukan? Siapa yang memutuskan bahwa suatu situasi telah matang untuk dilakukan intervensi? Siapa yang akan memimpin intervensi? Di mana peran kekuatan militer dalam melindungi human security?

Tidak dapat dihindarkan bahwa pertanyaan di atas yang bersumber dari diskursus tentang human security langsung menggugat makna dan keabsolutan kedaulatan nasional. Apakah kedaulatan nasional hak ataukah kewajiban? Bukankah pemerintah nasional wajib melakukan perlindungan terhadap individu warganegaranya? Jika gagal melakukan kewajiban untuk itu, siapa yang akan melindungi individu tersebut dan bagaimana dengan accountability dari pemerintah nasional yang gagal menjalankan kewajiban tersebut?

Pertanyaan di atas mengandung dua dimensi. Pertama, bahwa pemerintah mempunyai tanggung jawab politik terhadap keamanan individu secara luas. Untuk itu, dalam situasi tertentu perlu ada perluasan fungsi kekuatan militer tidak hanya dalam bidang pertahanan teritorial, melainkan juga dalam misi-misi kemanusiaan. Kedua, untuk itu semua pula harus ada mekanisme pertanggung jawaban politik dan operasional dalam menjalankan operasi militer baik operasi perang maupun non-perang. 

 

Kelestarian SDA dan Lingkungan dalam Pandangan Konsep Human Security

            Dari beberapa penjabaran yang terpaparkan diatas telah jelas bahwa lingkungan beserta sumberdaya alam yang terkandung didalamnya dan juga ancaman-ancaman yang ditimbulkan akibat dari kerusakannya telah menjadi suatu perhatian khusus suatu negara dalam upayanya untuk menjamin keamanan rakyatnya. Ancaman militer dari negara lain saat ini bukanlah satu-satunya persoalan yang dihadapi. Akan tetapi terdapat ancaman-ancaman dalam bentuk lain seperti kelaparan, kemiskinan, kesenjangan social ekonomi yang berpotensi menimbulkan konflik internal, serta bencana alam yang tidak bisa diduga atau yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan. Ancaman non-military tersebut dewasa ini menjadi persoalan yang cukup serius bagi negara dalam upayanya untuk menjamin keamanan rakyatnya.

            Seperti yang tercantum dalam UNDP bahwa human security dapat diartikan sebagai keamanan kemanusaiaan yang mencakup kemananan dari ancaman dan keamanan dari rasa takut. Dari penjabaran tersebut secara langsung konsep uman security ini memandang bahwa kelestarian lingkungan dan sumerdaya alam yang terkandung didalamnya menjadi sesuatu hal yang sangat penting dan harus menjadi perhatian serius pemerintah suatu negara dalam upayanya untuk menjamin keamanan rakyatnya.

Perhatian serius terhadap kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya dalam pandangan konsep human security didasari oleh beberapa alasan. Pertama, musibah alam yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan dewasa ini telah menjadi suatu ancaman yang cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia didunia. Contohnya, fenomena pemanasan global yang telah menenggelamkan banyak pulau-pulau kecil di kawasan pasifik secara langsung memperlihatkan bagaimana berbahayanya efek kerusakan lingkungan.

Kedua, eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran oleh manusia tentu saja akan berakibat pada berkurangnya sumberdaya alam yang ada atau membuat sumberdaya alam yang ada saat ini menjadi sangat terbatas. Contohnya, permasalahan pangan di sebagian besar negara-negara dunia ketiga saat ini salah satunya diakibatkan oleh keterabtasan sumberdaya alam yang ada yang merupakan konsekuensi dari eksploitasi sumberdaya alam yang telah dilakukan sebelumnya. Hal tersebut tentu saja akan menimbulkan efek domino seperti konflik internal dan pandemic kelaparan.

            Oleh karena itulah kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya menjadi sebuah hal penting dan harus diwujudkan secara bersama-sama, baik oleh actor negara maupun actor non negara dalam pandangan konsep human security. Dan negara sebagai actor penjamin keamanan rakyatnya ternyata tidak cukup mampu menyelesaikan persoalan tersebut secara sendirian. Karena itulah diperlukan actor non-negara unuk ikut secara bersama melestarikan lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terdapat didalamnya.

 

Kesimpulan

Fenomena kerusakan lingkungan  tersebut, dewasa ini menjadi perhatian serius seluruh umat manusia di dunia. Semakin besarnya angka kerusakan alam dalam beberapa decade terakhir menimbulkan kesadaran baru mengenai pentingnya penjagaan terhadap lingkungan maupun sumber daya alam yang terdapat didalamnya. Dalam konteks keilmuan Hubungan Internasional, hal tersebut secara langsung juga berdampak pada bergesernya pemahaman para skolastik terhadap konsep-konsep keilmuan yang telah ada sebelumnya, khususnya konsep keamanan yang selama ini hanya melihat keamanan dari sudut pandang politis yang hanya melibatkan negara sebagai actor utamanya.

Adanya ancaman berupa bencana alam akibat kerusakan lingkungan secara langsung mengalihkan pemahaman para teoritisi hubungan internasional bahwa diperlukan sebuah pandangan baru dalam  melihat keamanan suatu negara. Artinya keamanan suatu negara tidak lagi dilihat dari seberapa kuat peran negara dalam melindungi rakyatnya dari ancaman luar yang datang dari negara-negara lain. Akan tetapi ancaman-ancaman lain seperti adanya bencana alam juga patut menjadi perhatian serius sebuah negara dalam upayanya menjamin keamanan rakyatnya. Dan negara secara independen ternyata tidak cukup mampu mengatasi persoalan ini. Atas beberapa asumsi tersebut kemudian lahirlah apa yang dinamakan konsep keamanan non-tradisional yang berkembang menjadi konsep-konsep keamanan lain yang salah satunya ialah konsep human security.

Seperti yang tercantum dalam UNDP bahwa human security dapat diartikan sebagai keamanan kemanusaiaan yang mencakup kemananan dari ancaman dan keamanan dari rasa takut. Dari penjabaran tersebut secara langsung konsep uman security ini memandang bahwa kelestarian lingkungan dan sumerdaya alam yang terkandung didalamnya menjadi sesuatu hal yang sangat penting dan harus menjadi perhatian serius pemerintah suatu negara dalam upayanya untuk menjamin keamanan rakyatnya. 

Perhatian serius terhadap kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya dalam pandangan konsep human security didasari oleh beberapa alasan. Pertama, musibah alam yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan dewasa ini telah menjadi suatu ancaman yang cukup berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia didunia. Contohnya, fenomena pemanasan global yang telah menenggelamkan banyak pulau-pulau kecil di kawasan pasifik secara langsung memperlihatkan bagaimana berbahayanya efek kerusakan lingkungan.

Kedua, eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran oleh manusia tentu saja akan berakibat pada berkurangnya sumberdaya alam yang ada atau membuat sumberdaya alam yang ada saat ini menjadi sangat terbatas. Contohnya, permasalahan pangan di sebagian besar negara-negara dunia ketiga saat ini salah satunya diakibatkan oleh keterabtasan sumberdaya alam yang ada yang merupakan konsekuensi dari eksploitasi sumberdaya alam yang telah dilakukan sebelumnya. Hal tersebut tentu saja akan menimbulkan efek domino seperti konflik internal dan pandemic kelaparan.

            Oleh karena itulah kelestarian lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terkandung didalamnya menjadi sebuah hal penting dan harus diwujudkan secara bersama-sama, baik oleh actor negara maupun actor non negara dalam pandangan konsep human security. Dan negara sebagai actor penjamin keamanan rakyatnya ternyata tidak cukup mampu menyelesaikan persoalan tersebut secara sendirian. Karena itulah diperlukan actor non-negara unuk ikut secara bersama melestarikan lingkungan hidup dan sumberdaya alam yang terdapat didalamnya.

 

Pranala Luar:

Buku

Mas’oed, Mohtar, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi, 1994, Jogjakarta: LP3ES

Winarno, Bondan, Globalisasi: Wujud Imperialisme Baru Peran Negara dalam Pembangunan, 2004, Jogjakarta: Tajiddu Press

 

Situs

http://www.wikipedia.co.id

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/pengertian-sumber-daya-alam/

http://www.propatria.or.id/download/Paper/human_security_ep.pdf,Gambar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: