Beranda » Uncategorized » EVOLUSI SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL (2)

EVOLUSI SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL (2)

Institusionalisasi Sistem Perdagangan Pasca Perang Dunia II
Setahun sebelum berakhirnya perang dunia kedua atau pada tahun 1944, para pemimpin sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris mengadakan konferensi di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Secara umum konferensi tersebut membahas upaya-upaya penciptaan suatu tata moneter baru yang bisa mencegah munculnya kembali kondisi ekonomi yang memburuk pada tahun 1920-an dan 1930-an. Yang mana hal tersebut dianggap sebagai penyebab penting perang dunia kedua. Berkaitan dengan permasalahan tersebut pada 1947 Amerika Serikat mempromosikan penciptaan organisasi perdagangan dunia atau ITO (International Trade Organization) yang akan berfungsi mengawasi penerapan aturan perdagangan bebas baru yang diberlakukan pada berbagai kebijakan proteksionis seperti tariff, subsidi, dan semacamnya. Akan tetapi organisasi tersebut tidak berhasil diciptakan karena adanya koalisi kelompok kepentingan proteksionis dalam kongres Amerika Serikat yang berhasil memaksa pemerintah AS untuk menarik diri dari perjanjian itu. 
Atas kegagalan tersebut, presiden Harry Truman pada tahun yang sama kemudian memajukan usulan alternative berupa pembentukan struktur sementara bagi perundingan perdagangan multilateral, yang dikenal dengan the General Agreement on Tariff and Trade (GATT). Tahun 1948, GATT resmi menjadi organisasi utama yang bertanggung jawab mendorong liberalisasi perdagangan internasional. Dimana GATT mempunyai aturan-aturan yang dijadikan satu dalam sebuah peraturan umum yang terdiri dai 35 artikel. GATT mempromosikan liberalisasi perdagangan melalui serangkaian perundingan multilateral, yang disebut putaran GATT, dimana bangsa-bangsa pedagang utama dunia diharapkan bersepakat untuk mengurangi hambatan proteksionis mereka masing-masing sebagai imbalan atas kebebasan memasuki pasar ekonomi bangsa lain. GATT mempromosikan prinsip resiprositas – yang terkenal dengan sebutan MFN (Most Favored Nation) trade status – dimana ketika suatu negara memberi negara lain keuntungan dalam bentuk penurunan tariff bagi impor negara tersebut, maka ia harus memberikan keuntungan yang sama kepada semua negara. Tetapi ada beberapa negara yang tidak begitu saja memberikan keistimewaan itu kepada mitra dagangnya.
GATT juga membolehkan pengecualian dari aturan main perdagangan umum untuk barang dan jasa tertentu, termasuk produk pertanian dan kuota untuk menangani ketimpangan neraca pembayaran. Keanggotaan GATT secara teoretis terbuka untuk setiap bangsa. Tetapi hingga saat ini sebagian negara komunis masih enggan bergabung dalam GATT karena negara-negara komunis tersebut berpandangan bahwa GATT merupakan bentuk imperialisme barat.
Dalam GATT terdapat beberapa putaran terkenal yang pernah dijalankan yang meliputi putaran Kennedy (1962-1967) yang berhasil menyepakati penurunan tariff atas barang-barang non-pertanian dari negara-negara yang berpartisipasi, sampai kira-kira 35 persen, secara menyeluruh. Dalam upaya meningkatkan perdagangannya, AS sendiri menurunkan tingkat bea cukai atas impor non-pertanian sampai kira-kira 65 persen. Putaran Tokyo pada (1973-1979) yang berhasil menurunkan tingkat tariff untuk produk industry ke tingkat rata-rata 9 persen dan menghasilkan aturan main atau kode-kode yang mengatur berbagai jenis perdagangan yang diskriminatif, termasuk pemberian subsidi ekspor, pengenaan “countervailing duties”, dumping, praktek belanja pemerintah, dan penilaian douane dan persyaratan perizinan. Dalam putaran Tokyo juga diberlakukan aturan main khusus bagi perdagangan dengan negara-negara berkembang.

Putaran Uruguay dan Terbentuknya WTO
Putaran terakhir dalam GATT adalah putaran Uruguay. Putaran ini menjadi lebih terkenal diantara putaran-putaran yang lainnya karena beberapa hal. Pertama, seperti halnya putaran Tokyo, putaran Uruguay mencoba menangani sejumlah isu perdagangan yang muncul akibat saling ketergantungan ekonomi, semakin bervariasinya jenis barang dan jasa yang diperdagangkan, dan cara-cara yang lebih canggih untuk melindungi produk dan jasa. Putaran Uruguay bertujuan mengurangi hambatan terhadap bidang-bidang perdagangan baru, yaitu perdagangan jasa (seperti asuransi), hak milik intelektual (seperti perangkat lunak computer), dan investasi. Amerika Serkat memiliki keunggulan komparatif dalam bidang-bidang ini dan berusaha membuatnya bisa memasuki pasar di seluruh dunia. 
Isu kedua dalam putaran Uruguay adalah proteksi perdagangan untuk produk pertanian. Perdagangan produk pertanian sejak lama tidak dikenai peraturan GATT terutama karena isu tersebut secara politis sangatlah sensitive. Begitu putaran tersebut berlangsung, perdagangan pertanian menjadi salah satu butir utama perundinga yang berkali-kali membuat perundingan GATT tersebut macet. Perjanjian final mengenai perdagangan produk pertanian dicapai pada jam terakhir sebelum November 1993. Terakhir, isu ketiga, Putaran Uruguay menjadi istimewa karena ada upaya untuk melibatkan negara-negara sedang berkembang (NSB) dalam system perdagangan internasional dan dalam proses perundingan perdagangan. Dengan menjanjikan imbalan pembukaan ekonomi nasional mereka, NSB mengajukan tuntutan agar pasar negara industry maju (NIM) lebih terbuka bagi ekspor barang dasar, produk setengah jadi maupun produk jadinya ke NSB. 
Setelah sempat macet selama dua kali, hasil perundingan GATT Putaran Uruguay itu akhirnya disepakati pada akhir 1994 dan berlaku pada awal 1995. Para pendukung perjanjian itu menyatakan bahwa perjanjian tertulis dalam dokumen 22.000 halaman itu akan menghasilkan penurunan sepertiga tariff perdagangan dunia dalam waktu enam tahun, yang berarti akan memasukkan kira-kira setengah trilyun dolar AS ke dalam ekonomi dunia pada tahun 2000. Perjanjian final juga meliputi kebijakan perlindungan terhadap hak milik intelektual yang berkaitan dengan perdagangan (Trade-Related Intellectual Property Rights atau TRIP) dan pembebasan proses investasi dari pembatasan (Trade Related Investment Measures atau TRIM). Kebijakan TRIP bertujuan melindungi hak cipta, paten, dan merek dagang dari pelanggaran yang sering terjadi, seperti pembajakan. Sedangkan TRIM dimaksudkan untuk menghapuskan berbagai hambatan yang selama ini dikenakan pada investasi asing, seperti persyaratan yang muncul dari gagasan nasionalisme-ekonomi. Selain itu putaran Uruguay juga menghasilkan pembentukan organisasi perdagangan dunia (World Trade Organization atau WTO). 
WTO yang berkantor di Jenewa, Swiss, dirancang untuk bisa mengembangkan prosedur penyelesaian sengketa yang lebih efektif – termasuk kemungkinan penerapan sanksi apabila keputusannya diabaikan – daripada mekanisme penyelesaian sengketa yang dimiliki GATT sebelumnya. Mekanisme WTO untuk menyelesaikan perselisihan terdiri dari satu panel ahli yang tidak memihak-mihak yang dipilih oleh dewan penyelesaian sengketa. Setiap negara anggota WTO memiliki satu suara, dan dengan demikian WTO diharapkan akan terhindar dari kemacetan akibat kekuatan veto negara-negara yang lebih kaya dan kuat, seperti halnya Dewan Keamanan PBB. Selain berfungsi sebagai organisasi perdagangan multilateral, WTO juga mempunyai peran dalam memperkenalkan atau memajukan perjanjian-perjanjian dalam hal finansial dan pelayanan telekomunikasi serta perdagangan dalam hal produk teknologi informasi. 
WTO juga mempunyai agenda berupa pertemuan yang berlangsung setiap dua tahun sekali dan dihadiri oleh pemimpin ataupun menteri dari masing-masing negara anggota. Dari beberapa pertemuan yang pernah diadakan hingga saat ini, terdapat beberapa pertemuan yang dianggap cukup menarik dalam perjalanan WTO, yaitu pertemuan Seattle pada 1999, dan pertemuan Doha pada 2001. Pada pertemuan di Seattle, AS, Desember 1999, beberapa negara anggota menggalang dukungan untuk membentuk aturan negosiasi multilateral terbaru. Hanya saja pertemuan tersebut pada akhirnya tidak menghasilkan perrsetujuan apapun. Dan pertemuan selanjutnya di Doha, Qatar, November 2001, membahas kelanjutan pra-negosiasi panjang antara negara berkembang dan pembangunan. Akhir dari pertemuan tersebut, menghasilkan kesepakatan dari para perwakilan negara anggota WTO untuk menyetujui diadakannya negosiasi terbaru dengan tenggat waktu yang dibatasi pada akhir Desember 2004. 
Pada September 2003 di Cancun, Mexico diadakan kembali pertemuan WTO yang mana pertemuan tersebut gagal untuk menemukan konsesus dalam perencanaan deklarasi untuk membuat kemajuan dalam negosiasi Doha. Adapun tantangan terbesar kedepan yang harus dihadapi WTO ialah menemukan konsesus antara pembangunan dan negara-negara berkembang dalam organisasi tersebut. 
Menurut para pendukungnya, WTO bukan hanya sekedar organisasi perdagangan multilateral yang mencoba membatasi subsidi pemerintah, dumping, dan praktek-praktek perdagangan proteksionis lain. Bagi banyak ekonom liberal, WTO merupakan suatu ikhtiar multinasional untuk menggalakkan perdagangan bebas, kalau bukan mengelola perdagangan internasional, tanpa memerlukan suatu hegemon yang memaksakan ketertiban dalam system perdagangan internasional. Sedangkan para pengkritiknya memusatkan perhatian pada wewenang WTO untuk membuat peraturan dan pada banyak peraturan yang diawasinya.

Kesimpulan dan Kritik
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa perdagangan internasional merupakan salah satu dari persoalan dalam ekonomi politik internasional (EPI) yang paling tua dan paling kontroversial. Perdagangan internasional klasik terjadi pada masa abad ke-16 dan abad ke-18 yang ditandai dengan agresifitas negara-negara eropa dalam memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Pada masa itu negara atau pemerintah masih memegang peranan kuat dalam perdagangan internasional. Selanjutnya pada abad ke-19 negara-negara eropa mulai memakai penerapan kebijakan perdagangan bebas. Dimana pada masa tersebut Inggris menjadi kekuatan dominan dalam hal perekonomian. Penerapan kebijakan perdagangan bebas negara-negara eropa berakhir pada decade 1870-an, yang menjadi awal dari masa panjang proteksionisme hingga berakhirnya perang dunia kedua. 
Pada masa-masa tersebut (1870-1945) terdapat beberapaupaya-upaya untuk mengembalikan kondisi perekonomian dunia untuk menjadi lebih baik. Upaya tersebut ditandai dengan adanya konferensi ekonomi dunia pada 1927 dan 1933, pembuatan undang-undang Smoth-Hawley pada 1930 dan penciptaan Reciprocal Trade Agreement Act (RTAA) pada 1934 yang menjadi tonggak awal institusionalisasi system perdagangan internasional. Setahun sebelum berakhirnya perang dunia kedua atau pada tahun 1944, para pemimpin sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Inggris mengadakan konferensi di Bretton Woods, New Hampshire, Amerika Serikat. Secara umum konferensi tersebut membahas upaya-upaya penciptaan suatu tata moneter baru yang bisa mencegah munculnya kembali kondisi ekonomi yang memburuk pada tahun 1920-an dan 1930-an. Yang mana hal tersebut dianggap sebagai penyebab penting perang dunia kedua. Yang mana dalam perkembangannya AS mengusulkan dibentuknya ITO (International Trade Organization) yang kemudian gagal terwujud dan digantikan oleh General Trade Agreement Act (GTAA) pada 1947.
GTAA selanjutnya menjadi organisasi utama yang bertanggung jawab mendorong liberalisasi perdagangan internasional. Dalam proses perjalanannya terdapat beberapa putaran dalam GTAA yang mempunyai pengaruh terhadap aturan perdagangan internasonal. Yang mana putaran tersebut meliputi putaran Kennedy pada 1962-1967, putaran Tokyo pada 1973-1979, dan Putaran Uruguay pada 1986-1994. Diantara ketiga putaran tersebut putaran Uruguay menjadi putaran yang paling menarik dalam GATT, mengingat dalaputaran tersebut dihasilkan beberapa kesepakatan yang salah satunya ialah dibentuknya WTO (World Trade Organization) sebagai organisasi perdagangan dunia.
WTO yang berkantor di Jenewa, Swiss, dirancang untuk bisa mengembangkan prosedur penyelesaian sengketa yang lebih efektif – termasuk kemungkinan penerapan sanksi apabila keputusannya diabaikan – daripada mekanisme penyelesaian sengketa yang dimiliki GATT sebelumnya. Mekanisme WTO untuk menyelesaikan perselisihan terdiri dari satu panel ahli yang tidak memihak-mihak yang dipilih oleh dewan penyelesaian sengketa. Setiap negara anggota WTO memiliki satu suara, dan dengan demikian WTO diharapkan akan terhindar dari kemacetan akibat kekuatan veto negara-negara yang lebih kaya dan kuat, seperti halnya Dewan Keamanan PBB. 
Perkembangan atau Evolusi Sistem Perdagangan Internasional yang pada akhirnya melahirkan WTO sebagai organisasi perdagangan dunia melahirkan banyak kritikan, mengingat system perdagangan internasional dewasa ini sangatlah kental dengan liberalisme. Kritik utama terhadap system perdagangan internasional saat ini ialah bahwa aturan-aturan yang ada cenderung menguntungkan beberapa negara tertentu khususnya negara-negara industry maju. Sedangkan bagi negara yang sedang berkembang, system pasar bebas yang ada belum tentu menjain negara tersebut akan mengalami peningkatan perekonomian yang lebih baik. Yang terjadi justru sebagaian besar negara yang sedang berkembang mengelami ketergantungan dengan negara-negara industry maju.

 

Pranala Luar:
Mas’oed, Mohtar. Bahan Kuliah: Perdagangan Dalam Perspektif Ekonomi-Politik Internasional. 1998. Jogjakarta: UGM
Winham G. R. dalam The Evolution of the global trade regime


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: